Wah, bunda ngga’ ngerti juga nich apa mauku. Aku genggam jari telunjuk bunda dan menariknya agar mengikutiku ke ruang tengah. Sebelum bunda mengatakan sesuatu, aku telah berlari mengambil salah satu sendok plastik yang tergeletak dilantai dan memberikannya kepada bunda. Untuk kesekian kalinya bunda bertanya "What Alif ??". Kembali aku berlari mengambil satu lagi sendok plastik dan melemparkannya ke lantai. Sendok plastik itu berputar, sambil menunjuknya aku berteriak "cu..cuu…..".
Bunda terdiam memperhatikan sendok itu berputar, lalu tersenyum. Aku kembali menghampiri bunda, menggenggam jarinya dan memintanya untuk duduk bersamaku dilantai tepat di depan sendok plastik yang masih berputar lambat. Bunda meletakkan sendok plastik, yang aku berikan sebelumnya, ke lantai dan menyentaknya hingga berputar. "Do you want this Alif ??", aku berteriak "Daaaaa….". Asyik, bunda akhirnya mengerti apa yang aku mau.
Sejak itu, setiap kali aku membawakan sendok plastik kepada bunda, ayah, atau pengasuhku, mereka selalau berkata; "Do you want play spinning spoon Alif ??", akupun menjawab dengan pasti "Daa..". Awalnya mereka selalu memutarkan untukku sendok-sendok plastik itu secara bersamaan di atas lantai. Namun kini aku sudah bisa memutar 3 sendok plastik di atas meja secara bersamaan tanpa bantuan mereka.
Menyenangkan ……………
Sudah hampir 2 minggu ini aku tidak pernah melihat ayah pulang di siang hari. Padahal sebelumnya, walaupun tidak setiap hari, ayah selalu menyempatkan diri untuk pulang diwaktu siang untuk menemaniku makan siang. Ayah juga makan siang dan kembali ke kantor setelah sembahyang Dzuhur terlebih dahulu. Koq ayah gak pulang untuk menemaniku makan siang ya ???
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Bunda : "Alif, ayo mengaji bersama bunda" Alif : "Da…da….daaaa" (Bunda, ini bukan gambar butterfly)
"Are you ready Alif ?…..Car…..Bicycle….Bus….Airplane….Train….". Mataku tertuju ke lembaran-lembaran yang Bunda perlihatkan di depanku silih berganti. Pada setiap lembaran itu terdapat tulisan yang besar berwarna merah yang aku belum mengerti. Yang pasti, Bunda atau pengasuhku selalu menyebutkan hal yang sama pada saat lembaran dengan tulisan yang serupa mereka pelihatkan kepadaku. Buat apa ya mereka melakukan hal ini tiap hari, berulang-ulang ?? Bunda aja yang cerita ya, aku belum ngerti sih ……
Bunda ; Lembaran-lembaran itu disebut "Flash Card". Ini adalah metoda mengajar membaca untuk bayi (balita) melalui pengenalan bentuk kata dan kalimat. Metoda ini dikembangkan oleh Glenn & Janet Doman yang pada awalnya digunakan untuk memberikan pengajaran membaca (maupun matematik) kepada anak-anak yang mengalami cedera otak. Dengan metoda ini ternyata anak-anak tersebut bahkan menunjukkan kemampuan lebih dibandingkan anak-anak normal.
Seorang anak kecil dengan otak yang baru tumbuh dan berkembang dapat dianalogikan dengan proses pemulihan otak anak yang mengalami kecederaan. Dengan analogi inilah, metoda "Flash Card" digunakan untuk memberikan pengenalan kosa kata, kalimat, maupun angka secara dini kepada bayi, sejak ia masih berusia 6 bulan. Secara otomatis, hal ini akan menumbuhkan kemampuan membaca si kecil sedini mungkin.
Untuk gambaran lebih lanjut, dapat dilihat melalui webiste http://www.gdbaby.com.sg. Di Jakarta sendiri, perlengkapan penunjang metoda ini telah didistribusikan oleh PT. Tigaraksa Satria Tbk. yang dapat dihubungi melalui e-mail; bebies_are_excellent@tiraoptima.com.
Intinya, jangan pernah menganggap remeh kemampuan putra-putri kita dari dini.
Bunda : "Are you ready to play Flash Card Alif ….. ?" Alif : "Daa…"
"Spinning Spoon", permainan yang paling aku sukai. Kalo boleh dibilang, akulah penemu permainan ini, dan Bunda yang memberikan nama buatnya.
Saat itu Bunda membeli seperangkat piring plastik lengkap dengan garpu, sendok, dan pisau plastik-nya. Warnanya beraneka ragam; merah, kuning, biru, dan hijau. Karena warnanya yang menarik, aku selalu merengek minta untuk memainkan perlengkapan tersebut.
Sampai suatu saat aku bosan dan melemparkan perlengkapan plastik itu berserakan di lantai. Saat itulah aku melihat beberapa sendok berputar di lantai sampai akhirnya berhenti ketika aku berusaha untuk mengambilnya. Aku lemparkan lagi sendok itu ke lantai, tapi sekarang dia tidak berputar seperti tadi lagi. Kenapa ya …. ???? Coba aku ambil dan lempar lagi ……. nah, kali ini dia berputar walau hanya sebentar saja.
Aku berlari mencari Bunda. "Ce..ce…cu..cu…", aku berteriak dan melihat Bunda berusaha untuk memahami apa yang aku inginkan. Tapi tetap saja Bunda ngga’ mengerti apa yang aku inginin. "Ada apa sayang ? What Alif ?". Cuman itu yang Bunda ucapkan menimpali teriakanku.
(nanti aku sambung ya ….)
Aku lahir di Jakarta, tapi orangtuaku membawaku pindah ke Malaysia tepat sehari sebelum umurku genap 13 bulan. Ayahku bekerja di Kuala Lumpur, Bunda-ku juga, mereka berdua memang bekerja.
Dulu sewaktu masih di Jakarta, aku selalu merasakan ada yang hilang disaat mereka berdua berangkat dipagi hari, tapi aku gak bereaksi banyak. Tetapi sekarang, aku ngga’ puas kalo ngga’ mengantar mereka bedua sampai ke depan jalan. Melihat mereka berdua menghilang, masuk ditelan oleh bus merah atau bus putih di sebrang jalan. Sambil mengayunkan kedua tanganku dan menciumnya disaat pengasuhku berteriak "kiss bye….kiss bye….mana kiss bye-nya Alif ?"
Sampai saat ini, Ayah-Bunda tidak pernah pergi bekerja sebelum aku terbangun dari tidurku di pagi hari dan selalu menungguku siap untuk mengantarkan mereka ke ujung jalan sana.
Selamat bekerja Ayah, selamat bekerja Bunda, ……… cepat pulang ya !!!!! Aku ingin bermain bersama kalian nanti ………..
Hi, namaku Naufal, kedua orang tuaku memanggilku "Alif", mungkin karena aku adalah putra pertama mereka berdua. Lima hari yang lalu usiaku genap 19 bulan. Yup, aku masih "ba ti ta", tetapi ayah membuatkan bloq ini untukku. Dia akan mengisi bloq ini dengan tawaku, tangisanku, marahku, ceriaku, ngambek-ku, sampe akhirnya aku bisa menuliskannya sendiri dengan kedua tangan mungilku ini, kelak.
Hmmmmmm, mulai dari mana ya …….. ????


